Perjuangan Akbar Dengan Herbal

(Hidayatullah) Dokter lulusan perguruan tinggi ternama ini telah menalak tiga obat kimia sintetik. Kursi direktur diabaikannya, malah jadi guru dan terapis bekam.

Novianti gundah. Anak perempuannya, Balqis, yang baru berusia 1 tahun, dinyatakan mengidap sakit Hisprung Disease. Yaitu gangguan pada kongenital yang ditandai dengan penyumbatan pada usus besar, sehingga tidak bisa buang air besar. Menurut dokter yang memeriksanya, bocah ini diharuskan melakukan kolostomi atau pembuatan lubang pada dinding perut yang disambungkan dengan ujung usus besar.

Sebagai ibu, Novi jelas diliputi rasa bingung. Memasang kantung saluran tinja tentu butuh dana yang tidak sedikit, sementara ia bukanlah keluarga dari kalangan atas yang berlimpah harta. Novi pun mencoba mencari jalan keluar.

Dari kediaman asalnya di sebuah kota di Kalimantan Timur, Novi beringsut jauh menuju ibu kota Jakarta bersama Balqis. Di Jakarta, ia langsung menuju praktik dokter Zaidul Akbar yang sudah dikenalnya, untuk mengadukan penyakit sang anak.

“Ketika tahu rekomendasinya agar anak itu pakai kantung, saya bilang, jangan dulu, kasihan anak sekecil itu,” kata pria yang biasa disapa dokter Akbar ini.

Alhamdulillah, atas berkah Allah ternyata penyakit itu bisa sembuh dan Balqis dapat buang air besar setelah diobati dengan terapi dan herbal. Uniknya, terapi ini dilakukan sendiri oleh ibunya melalui bimbingan dokter Akbar.

Si anak diminta untuk mengonsumsi obat-obat herbal dan ibunya diajari bagaimana melakukan kirob (pijit) kasih sayang. “Ternyata kasih sayang itu mujarab dan bisa melahirkan kesembuhan,” tutur Akbar.

Kini, gadis kecil itu sudah sehat kembali dengan pengobatan herbal dan Thibbun Nabawi. Tapi siapa sangka, Akbar yang menanganinya itu, dulunya adalah orang yang kerap memicingkan mata terhadap praktik pengobatan ala Nabi Muhammad ini.

“Terjebak” ke Jalan yang Lurus

Pria kelahiran Jambi, 30 November 1977 ini adalah dokter lulusan Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah. Tahun 2003 ia lulus kuliah dan bekerja sebagai dokter di beberapa rumah sakit, antara lain Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur dan Rumah Sakit Sari Asih,Tangerang, Banten.

Selain itu, ia juga pernah menjadi trainer di lembaga pengembangan leadership ESQ Jakarta, tapi kemudian mengundurkan diri.

Sejak itu, ia mulai mendalami pengobatan Islam Thibbun Nabawi khususnya bekam. Ada pengalaman yang tak bisa dilupakan Akbar. Pada 2008, seorang sahabatnya meminta Akbar untuk mengisi seminar tentang praktik dan konsep bekam. Alasannya, karena ia sudah punya latar belakang ilmu kedokteran yang mumpuni.

“Padahal saat itu saya masih awam dengan hijamah (bekam) ini,” ungkapnya kepada majalah Suara Hidayatullah pertengahan November lalu. Berawal dari sinilah, Akbar secara intens mulai mempelajari konsep dan metode bekam serta Thibbun Nabawi secara umum.

Akbar mengaku, awalnya ia sama sekali tidak tertarik dengan praktik bekam. Apalagi mengingat tipikal praktisi kesehatan konvensional kerap tak mudah percaya dengan metode pengobatan klasik yang dianggap tak masuk akal. Tapi karena penasaran, lalu ia mencoba mempelajarinya. Apalagi ia tahu banyak dalil al-Qur`an dan Hadits yang dipakai untuk menjelaskan keunggulan pengobatan ala Nabi ini.

“Saya pelajari Hadits-Haditsnya, saya kaji lebih dalam. Lalu saya komparasikan dengan metode pengobatan konvensional yang pernah saya pelajari. Ternyata memang luar biasa. Di sinilah saya mulai jatuh cinta dengan bekam,” ujar suami dari Evanna Yogianti yang juga seorang dokter ini.

Sejak itu, Akbar memutuskan untuk keluar dari RS Sari Asih. Padahal, di saat yang sama ia baru saja mendapat jabatan direktur di salah satu unit kegiatan medis di rumah sakit tersebut. Ia kemudian bergabung dengan Institut Teknologi Herba Penawar Al-Wahida (IT-HPA), sebuah sekolah Thibbun Nabawi yang mendidik mahasiswa selama 3 bulan di Jakarta. Di sana ia mulai menelurkan gagasan-gagasannya yang terus dikembangkan hingga sekarang.

Sebelumnya, Akbar telah berjualan herbal di tempatnya praktik di RS Sari Asih. Kepada pasiennya, ia menganjurkan untuk hanya mengonsumsi bahan-bahan herbal ketimbang obat-obat kimia sintetik yang ada. “Kenyataannya justru masyarakat memang lebih percaya akan khasiat bahan-bahan herbal,” ujarnya

Medis Herbalis

Sebagaimana pengalamannya, Akbar menilai banyak kasus kesehatan yang menimpa masyarakat dewasa ini yang tidak bisa diatasi dengan terapan medis konvensional, dan justru bisa dipecahkan dengan konsep pengobatan Thibbbun Nabawi.

Seperti kasus yang pernah ia tangani, ada seorang anak berusia 3 tahun tidak bisa berjalan. Oleh dokter di rumah sakit konvensional si anak sudah dijejali berbagai macam obat kimia sintetik, namun tak ada tanda akan membaik. Tapi dengan terapi kiroptik langsung bisa jalan.

Dari realitas tersebut, Akbar menggagas untuk mensinergikan konsep medis dengan herbal (medis herbalis). Sebab menurutnya, saat ini konsep dan praktik pengobatan Thibbun Nabawi sudah mulai dilupakan sebagai konsep pengobatan Islam yang berkait erat dengan ketauhidan.

“Sangat disayangkan, jika orang Islam tidak mengenal prinsip pengobatan Islam yang sumbernya jelas-jelas dari al-Qur`an dan Hadits,” ujar ayah dari Syafira Faiza dan Syafiq Fahruddin Akbar ini.

Menurutnya, yang menjadi persoalan umat Islam sekarang adalah kadang-kadang masih mencari pembuktian, padahal sudah jelas dalil tentang pengobatan herbal seperti madu dan bekam. “Saya belum pernah mendengar ada orang yang meninggal karena mengonsumsi obat-obat herbal,” kata Akbar.

Keluarga Herbal

Tak sekadar menganjurkan, secara individu Akbar pun meninggalkan konsumsi obat-obatan kimia. “Seratus persen saya sudah tinggalkan konsep pengobatan konvensional,” tegas Akbar. Semua keluarganya pun kini telah beralih ke herbal.

Secara alamiah herbal itu organik. Tubuh kita hanya akan merespon dengan cepat terhadap bahan-bahan alamiah dari alam berupa herbal. Sementara itu, jelas Akbar, tubuh kita sangat tidak cocok dengan obat dari sumber-sumber kimia sintetik.

“Saya juga tidak mendikotomi total. Boleh saja menggunakan kimia sintetik, tapi ini jangan dilazimkan. Yang harus diketahui, mengonsumsi obat kimia sintetik berarti kita memasukkan sesuatu yang sebetulnya tubuh kita tidak bisa menerimanya,” paparnya.

Kini, debut Akbar tidak saja sebagai pengajar dan praktisi di dalam negeri, ia juga banyak mengajar Thibbun Nabawi di beberapa negara Asia, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Ia pun kerap memberikan pelatihan wirausaha dan motivasi. Hari-harinya, Akbar praktik di Griya Sehat Jawi, Komplek Bea Cukai, Cilincing, Jakarta Utara.

Bersama beberapa kawannya, Akbar merintis bisnis kuliner. Bisnis itu dinamakan Radix Pizza House, pizza herbal pertama di Indonesia.

Pria berparas India ini kerap juga diundang berbicara di beberapa stasiun televisi dan radio di Jakarta. Cita-citanya yang terus diusahakannya sampai saat ini adalah mengenalkan Thibbun Nabawi ke dunia internasional, khususnya kepada umat Islam. *Ainuddin Chalik, Ahmad Damanik/Suara Hidayatullah DESEMBER 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s